Jumlah perokok anak di Indonesia melonjak karena iklan rokok diperbolehkan menyebar

2020-10-26

Reporter Tribunnews.com Reynas Abdila melaporkan-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Yayasan Lentera Anak mengatakan, iklan rokok sangat mempengaruhi prevalensi perokok anak di Indonesia. Pemerintah melarang penayangan iklan rokok di media promosi apapun. Lisda mengatakan dalam forum diskusi virtual, Rabu (7 Oktober 2020): “Jumlah anak yang merokok terus meningkat pesat akibat iklan rokok di mana-mana.” Ironisnya, rokok terpampang jelas di booth. periklanan. . Tempat yang tidak jauh dari sekolah atau tempat anak-anak bertemu. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Global Youth Tobacco pada tahun 2019, tercatat 65,2% siswa melihat iklan rokok di toko, 60,9% siswa melihat iklan rokok di luar ruangan, dan 56,8% siswa melihat iklan rokok di TV. , 36,2% terlihat di Internet. .

Baca: Pengusaha Dukung Pemerintah Kurangi Perokok

Survei juga menemukan bahwa 60,6% mahasiswa tidak dicegah untuk membeli rokok. Minimnya pengawasan pemasok rokok membuat anak lebih mudah memperoleh tembakau. , Karang Asem, Gianyar, Klungkung, Jembrana, Banggai, dll. Tidak ada iklan tembakau. Kota Bogor memiliki pengendalian tembakau yang jelas. Intinya, ada beberapa faktor yang menentukan apakah kita bisa menyelaraskan dengan pengendalian tembakau. Janji politik adalah bahwa eksekutif tidak antusias, tetapi tidak bisa mendapatkan dukungan melalui dewan, dan sebaliknya. “Bagi pemerintah daerah sangat penting untuk menentukan kontribusi reklame rokok terhadap seluruh pajak daerah.” Di Bogor, penerimaan pajak iklan hanya menyumbang 1,8% hingga 2,1% dari seluruh penerimaan pajak di Bogor. Oleh karena itu, di reklame rokok Selain itu, potensi penerimaan perpajakan masih banyak. Kata Bima Arya.

Leave A Comment