Puskesmas diharapkan bisa aktif memantau pengetahuan gizi ibu

2020-11-09

Laporan Eko Sutriyanto, jurnalis Tribunnews.com di Jakarta-TRIBUNNEWS.COM, Jakarta-Tidak semua orang Indonesia, terutama para ibu, mengetahui efek samping pemberian susu kental manis (SKM) pada anak.

Ketidaktahuan, diduga karena kurangnya sosialisasi.

Terutama bagi orang-orang di pedesaan atau para ibu yang mungkin sama sekali belum tergerak oleh Internet. — Menurut Meida Octarina, Vice President MCN, Kementerian Ketahanan Gizi Kia dan Kementerian Koordinasi Kesejahteraan Rakyat / Kesling (2010-2019) dapat disosialisasikan dengan berkoordinasi dengan pengelola Puskesmas dan Posyandu . , Rabu (12/8).

Baca: Menteri Dalam Negeri Tito (Tito) memanggil dokter yang bekerja di garis depan Puskesmas untuk menangani Covid-19

Karena itu, Meida mengatakan bahwa Kanwil DJP Puskesmas tingkat provinsi dan kabupaten / kota serta BPOM bersama dengan POM Puskesmas harus secara aktif melakukan pengawasan di seluruh Puskesmas agar dapat secara aktif mensosialisasikan informasi bahwa SKM bukan susu kepada ibu-ibu di wilayahnya, oleh karena itu di kelola kepada bayi dan anak. Tidak baik. -Peraturan tentang susu kental manis ini sudah ada sejak tahun 1975, ketika Menteri Kesehatan milik Gerrit A. Siwabessy (Gerrit A. Siwabessy) mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan 76 / Men.kes / Per / XII / 75 Distribusi dan pelabelan susu kental manis. Penggunaan susu murni atau sejenisnya setara dengan susu murni yang telah diuapkan hingga mencapai ketebalan tersebut dan memiliki kandungan gula yang tinggi. Untuk anak-anak atau orang dewasa. Anak-anak yang disebutkan dalam peraturan tersebut adalah anak-anak berusia di atas 1 tahun dan belum dianggap dewasa.

Leave A Comment