BPOM mendorong peningkatan pengawasan peraturan pelabelan dan promosi produsen makanan penutup terkonsentrasi

2020-12-05

Laporan wartawan Jakarta Tribunnews.com Eko Sutriyanto-Survei yang dilakukan oleh YAICI, PP Aisyiyah dan PP Islamicat NU menemukan bahwa 37% responden menganggap susu kental sebagai susu, bukan hiasan. Tidak kurang dari 73% narasumber mengetahui informasi tentang susu kental manis dalam bentuk susu dalam iklan TV, yang menunjukkan bahwa TV adalah konsumsi sehari-hari masyarakat dan mempengaruhi konsep pelatihan masyarakat. – “Misalnya susu kental manis, dulu susu kental manis disebut susu, jadi meski dilarang BPOM, masyarakat tetap mengonsumsi susu kental,” jelas Ketua Harian Yayasan Insan Cendekia Abhipraya Indonesia (YAICI) Arif Hidayat. -Penelitian dilakukan oleh PP Aisyiyah di Jakarta DKI Jakarta, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, sedangkan di Kecamatan Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Kupang dan Ambon oleh PP Muslimat NU. Dalam penelitian ini.

Bersamaan dengan itu, pada tahun 2018 ini, YAICI juga bekerjasama dengan Yayasan Peduli Negeri, Universitas Haluoleo di Kabupaten Kendari, dan Ibnu Sina Stikes di Batam pada topik yang sama. 400 ibu dari desa Mandonga di Kec disurvei. Kota Kendari (Mandonga) dan 300 ibu dari Desa Kec Sagulung Kota. Sagulung Kota Batam menunjukkan bahwa 97% ibu Kendari dan 78% ibu Batam percaya bahwa susu kental adalah susu yang bisa dimakan seperti susu anak. Dengan Oreo dan susu kental manis, berani coba?

Selain itu, Arif menuturkan, survei dilakukan terhadap ibu-ibu yang meyakini peran ibu dalam asupan makanan anak dan keluarganya. Tingkat pengetahuan dan kesadaran ibu sangat penting dalam memilih jenis makanan untuk anak dan keluarganya.

Leave A Comment