Malnutrisi anak dianggap sebagai salah satu faktor yang meningkatkan risiko kematian

2020-12-05

JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau tidak mengabaikan masalah gizi anak Indonesia saat pandemi Covid-19.

Diduga tingginya angka kematian pada anak-anak yang terpapar virus corona ini disebabkan oleh faktor-faktor yang menyertai, antara lain status gizi anak Indonesia yang buruk. -Menurut data Kementerian Kesehatan, hingga akhir Mei, terdapat 1.851 kasus Covid-19 pada anak di bawah usia 18 tahun, termasuk 29 laporan kematian anak akibat corona. – “Di Indonesia, pejabat yang menangani gizi bayi harus bertanggung jawab atas tingginya angka kematian bayi akibat Covid -19, karena gizi buruk pada anak merupakan salah satu faktor insidental yang meningkatkan risiko kematian,” kata Agus, pengamat kebijakan publik, Minggu (14/6). / 2020), Pambagio. -Membaca: Pola makan seimbang dapat membantu mengatasi pandemi Covid-19-ia mengakui bahwa pejabat Kementerian Kesehatan yang bertanggung jawab atas pengelolaan gizi bayi tidak boleh santai dan harus memiliki rasa krisis, karena jika tidak, akan lebih banyak Anak-anak berisiko meninggal jika terpapar Covid-19.

Juru bicara pemerintah untuk departemen kesehatan Pada saat yang sama, juru bicara pemerintah COVId-19

Achmad Yurianto mengatakan bahwa sebagian besar anak yang menderita virus corona disebabkan oleh faktor-faktor yang mendasarinya, terutama gizi buruk. , Anemia dan fasilitas. Kesehatan anak tidak mencukupi.

“Covid-19 membuktikan bahwa kita harus memerangi gizi buruk. Anak-anak Indonesia terjebak dalam” lingkaran setan “, yaitu siklus gizi buruk dan anemia yang memperparah kerentanan mereka terhadap virus corona,” kata Achmad Yurianto, Kata Dr. Yuri. “-Agus menambahkan, akibat terhentinya kegiatan Posyandu pada pandemi -19, pemantauan gizi anak terganggu. Sebagai Departemen Kesehatan, Kementerian Kesehatan harus melakukan terobosan.

Leave A Comment