Sunat dianggap praktik berbahaya dan melanggar hak-hak dasar perempuan

2020-12-05

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Berbeda dengan pria, wanita tidak perlu disunat atau disunat.

Indra Gunawan, asisten pelibatan masyarakat di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak (Kemen PPPA), mengatakan sunat perempuan adalah praktik yang berbahaya. -Mutilasi / reseksi kelamin perempuan (FGM) atau mutilasi alat kelamin perempuan (P2GP) atau praktik yang biasa disebut sunat perempuan tidak memiliki keuntungan bahkan merugikan perempuan. Perempuan dan gadis yang bisa menyebabkan depresi dan trauma akibat gangguan kesehatan, ”kata Indra dalam keterangannya, Selasa (15/9/2020). Banyak ulama di dunia yang melarang perempuan menjalani sunat.

Baca: Mengobati luka usai sunat terkadang bisa menyulitkan anak-anak-lanjutnya. -Pakar kedokteran, kebidanan dan kandungan Muhammad Fadli menegaskan bahwa jika perempuan tidak perlu disunat, maka tidak. Laki-laki itu berbeda. Menurutnya, alat kelamin perempuan secara inheren sudah optimal atau sempurna, berbeda dengan laki-laki yang harus disunat, terutama dari segi medis untuk menghindari masalah kesehatan di kemudian hari.

“Sunat pada laki-laki Ada masalah dengan multiple sclerosis. SOP dan praktek menjadi satu kesatuan. Tidak ada SOP sunat perempuan, dan tidak ada standar yang seragam di setiap daerah. Oleh karena itu, praktik ini tidak boleh dilakukan ”, kata Dr. Fadli.-Dr. Fadli menjelaskan sunat perempuan sangat berbahaya karena sengaja dilakukan untuk mengubah atau membahayakan alat kelamin perempuan tanpa ada indikasi medis. Tindakan.

Leave A Comment