Batasi asupan GGL dan perhatikan nutrisi untuk mencegah komplikasi serius yang disebabkan oleh PTM dan COVID-19

2020-07-08

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Menurut Departemen Kesehatan Indonesia, 80% penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan penyakit jantung disebabkan oleh perilaku tidak sehat, termasuk kebiasaan makan yang tidak sehat.

Terutama pada pandemi COVID-19, orang dengan penyakit tertentu (seperti diabetes) berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius ketika terpajan COVID-19.

The American Diabetes Association menunjukkan bahwa pada pasien diabetes, kadar gula darah yang tidak terkendali dan infeksi virus dapat memperburuk peradangan dalam tubuh. Kombinasi kedua kondisi ini selanjutnya akan meningkatkan risiko komplikasi. Astri Kurniati, kepala Nutrifood Research Center, ST, M.App.Sc., mengatakan pada pertemuan itu: “

” Untuk alasan ini, dalam pandemi COVID-19 saat ini, kontrol gula darah menjadi semakin banyak. penting. Melalui media online, Kamis (22/4/2020) .Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menjalani hidup sehat, termasuk menjaga pola makan yang sehat, menjaga berat badan dan melakukan latihan sehari-hari – sebagai bagian dari menjadi sehat Diet, penderita diabetes harus memilih makanan kaya serat sesuai dengan rekomendasi dari Departemen Kesehatan Indonesia, memperhatikan jumlah makanan dan waktu makan, dan membatasi konsumsi GGL (gula, garam dan lemak). : Kronologi seorang ibu di Provinsi Lampung menewaskan dua anaknya – kepala penyakit tidak menular, kesehatan mental dan manajemen obat di Biro Kesehatan DKI di Jakarta, Dr. MKM Endang Sri Wahyuningsih sebagai bagian dari gaya hidup sehat Untuk mencegah pra-diabetes atau diabetes, setiap orang harus membatasi asupan GGL.

“Ukurannya adalah 50 gram gula atau 4 sendok makan gula per hari; 5 gram garam atau 1 sendok teh garam per hari; ia mengatakan bahwa 67 gram lemak atau 5 sendok makan lemak bahan harus dikonsumsi setiap hari. Selain itu untuk membatasi konsumsi GGL Masyarakat juga harus berkonsultasi tentang nilai gizi kemasan makanan olahan sehingga asupan nutrisi harian tidak terlalu tinggi.

Dr Sutanti Siti Namtini Apt, Direktur Biro Pengawasan Obat dan Makanan Nasional, Direktur Standardisasi Makanan Olahan, mengatakan Makanan olahan telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS sebagai agen penjualan. Agen harus memberikan informasi tentang nilai gizi sehingga masyarakat dapat memilih asupan yang sesuai dengan kebutuhan gizi mereka untuk mempertahankan pembacaan tubuh yang sehat: untuk waktu yang lama, di sini Ada serangkaian rumor tentang kesehatan Korut, Presiden Korea Selatan Kim Jong Un

Leave A Comment