Sunat dianggap praktik berbahaya dan melanggar hak-hak dasar perempuan

2020-12-18

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Berbeda dengan pria, wanita tidak perlu disunat atau disunat.

— Indra Gunawan, asisten pelibatan masyarakat di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak (Kemen PPPA), mengatakan mutilasi alat kelamin perempuan adalah praktik yang berbahaya. -Mutilasi / reseksi kelamin perempuan (FGM) atau penyakit kelamin perempuan (P2GP) atau biasa disebut sunat perempuan tidak memiliki kelebihan bahkan merugikan perempuan. Dalam keterangannya, Selasa (15/9/2020), Indra mengatakan: “Wanita dan gadis yang dapat menyebabkan depresi dan trauma karena masalah kesehatan.” Semua penyebab utama kematian di kalangan sarjana di seluruh dunia melarang wanita menjalani sunat.

Bacaan: Mengobati luka pasca sunat terkadang bisa menyulitkan anak-anak, lanjutnya. -Di bidang kedokteran, Muhammad Fadli, dokter spesialis kebidanan dan kandungan, menegaskan bahwa jika perempuan tidak melakukan apapun, mereka perlu disunat, yang berbeda dengan laki-laki. Menurutnya, alat kelamin wanita secara inheren sudah optimal atau sempurna, tidak seperti pria yang membutuhkan sunat, apalagi dari segi medis untuk menghindari masalah kesehatan di kemudian hari.

“Sunat laki-laki memiliki SOP dan prakteknya Dr. Fadli berkata:” Sunat itu bersatu. Tidak ada SOP sunat perempuan, dan tidak ada seragam sunat di setiap daerah. Karena itu, pendekatan ini sebaiknya tidak dilakukan. “-Dr. Fadli menjelaskan sunat perempuan sangat berbahaya karena merupakan tindakan sengaja untuk mengubah atau merusak alat kelamin perempuan tanpa ada indikasi medis.

Leave A Comment