Selama pandemi, minat orang untuk membeli mobil Daihatsu melonjak dan uang tunai melonjak

2020-12-15

Laporan wartawan Tribunnews.com Hari Darmawan

Jakarta TRIBUNNEWS.COM-PT Ameila Tjandra, Direktur Pemasaran Otomotif Astra Daihatsu, mengatakan saat wabah Covid-19, konsumen yang membeli mobil Daihatsu dengan uang tunai (alias tunai) cenderung meningkat. Beli dengan cicilan atau kredit. Demikian disampaikan dalam diskusi online antara Astra Daihatsu dan Merdeka.com, Selasa (23/6/2020).

Sekarang, mereka yang membeli mobil Daihatsu dengan uang tunai telah meningkat menjadi 78%, dan sisanya 22% dicicil. -Amel percaya bahwa perubahan tren ini mungkin disebabkan oleh perusahaan keuangan yang menyediakan layanan pembelian kendaraan secara mencicil. Harap berhati-hati saat menerima permintaan dari masyarakat untuk membeli kendaraan baru.

Baca: Perkembangan Terkini: Toyota Agya, Harga Murah Mobil Bekas Daihatsu Ayla dan Honda Brio Satya

“Perusahaan jasa persewaan mobil lebih berhati-hati dalam memberikan layanan kredit pembelian mobil,” kata Amel. .

Baca: Dengan produk ganda dan harga bersaing, inilah mengapa Daihatsu tidak bisa mengungguli penjualan Toyota- “Biasanya, uang muka rata-rata 15-20% dari harga mobil. Tapi dalam kasus ini, Dalam hal ini, penyedia layanan meningkatkan nilai uang muka.Beberapa penyedia menaikkan uang muka menjadi 30% atau 35%. Selama wabah Covid-19, ia bahkan berhenti memberikan layanan pembelian cicilan. -Amel juga Menanggapi pelonggaran besar-besaran pembatasan sosial yang saat ini diterapkan di banyak daerah (seperti DKI Jakarta). Ia mengatakan, langkah pelonggaran tersebut akan menjaga laju pembangunan ekonomi. Situasi ini terus berlanjut, namun setidaknya ada harapan untuk merevitalisasi perekonomian Dan meremajakan, “kata Amel.

Amel mengatakan pelonggaran PSBB ini tidak serta merta meningkatkan antusiasme pasar otomotif. Covid-19 di Indonesia.

“Kalau Daihatsu bisa menjual 80.000 hingga 100.000 mobil per bulan pada 2019, dalam hal ini mungkin sulit. Padahal daya beli masyarakat belum meningkat,” kata Amel.

Tapi Amel juga sangat optimis jika produk domestik bruto atau PDB tumbuh 5%, maka pasar otomotif bisa kembali ke level 2019, bahkan lebih bergairah.

Leave A Comment